Minggu, 04 Desember 2011

Mirip Tato Padahal Sensor Elektronik

Perekayasa Amerika Serikat mengembangkan platform perangkat ultra-tipis yang fleksibel dan nyaman sehingga dapat ditempelkan di kulit bagaikan tato sementara. Perangkat tersebut bisa berfungsi sebagai sensor, membantu diagnosis medis, komunikasi, dan interface manusia-mesin.


http://assets.kompas.com/data/photo/2011/08/12/1558014620X310.jpg

Perangkat itu memiliki rangkaian elektronik yang tersusun atas sensor, transistor, kapasitor, antena wireless, LED, dan panel surya. Rangkaian tersusun di atas lembaran berbahan serupa karet yang mampu mengembang dan mengerut, menyesuaikan dengan kulit.

Lembaran dengan rangkaian elektronik tersebut dipasang pada plastik yang larut air. Untuk memasang, cukup berikan air dalam jumlah sedikit dan tempelkan perangkat di kulit. Seketika, perangkat akan menempel dan fleksibilitasnya bisa diuji.

"Menurut kami, perangkat ini adalah sebuah konsep maju tentang elektronik yang bisa dipakai untuk mencapai sesuatu yang tak pernah terpikir oleh pengguna," kata Todd Coleman, professor teknik komputer dan elektronik dari University of California di San Diego yang terlibat penelitian ini.

Ia mengatakan, teknologi ini adalah terobosan baru dalam elektronika. "Teknologi ini bisa menghubungkanmu ke dunia fisik dan dunia maya dengan cara yang sangat natural dan terasa nyaman," lanjut Coleman seperti dikutip situs Physorg.

Manfaat yang sudah bisa dibayangkan dari perangkat ini adalah pada bidang medis, seperti analisis EEG dan EMG untuk mengetahui aktivitas otot dan saraf. Untuk melakukannya, tak perlu lagi penggunaan gel konduktif, plester, dan pin yang ditanam sehingga lebih nyaman.

"Kalau kita ingin mengerti fungsi otak dalam kondisi yang natural, maka ini sangat tidak sesuai dengan prosedur EEG. Cara terbaik melakukannya adalah merekam sinyal saraf secara natural, dengan perangkat yang tak 'terlihat' oleh pemakai," kata Coleman.

Perangkat ini juga bisa dipakai selama aktivitas normal untuk memantau kesehatan dan kebugaran. Saat tidur, perangkat bisa dipakai memantau status kognitif dan perilaku. Sementara itu, bagi penderita gangguan saraf dan otot, alat ini bisa dipakai berkomunikasi dengan komputer.

Di antara beragam manfaat, salah satu yang sudah dibuktikan adalah kemampuan perangkat membedakan gerakan otot tenggorokan ketika manusia melakukan percakapan sederhana. Ilmuwan juga sudah membuktikan bahwa alat ini bisa dipakai untuk mengontrol video game.

John A Rogers dari University of Illinois, pimpinan proyek penelitian ini, dan grupnya, memang terkenal dengan pembuatan perangkat fleksibel. Namun, untuk menciptakan perangkat yang nyaman di kulit membutuhkan paradigma produksi yang berbeda.

"Perangkat yang bisa meregang buatan kami sebelumnya tak sesuai dengan mekanofisiologi kulit. Kulit sangat lembut tetapi permukaannya bisa kasar, dengan tekstur mikroskopik tertentu. Ini membutuhkan pendekatan dan prinsip desain yang berbeda," kata Rogers.

Dalam produksi perangkat ini, Rogers bekerja sama dengan Yonggang Huang dari Northwestern University untuk mengatasi kesulitannya. Mereka menciptakan geometri perangkat yang disebut filamentary serpentine, yang dengannya rangkaian komponen bisa dibuat sekecil mungkin.

Huang mengungkapkan, "Di sini, penggabungan elektronika dan biologi adalah kuncinya. Semua pembuatan perangkat elektronik sulit dan kaku, sementara biologi lembut dan elastis. Ini dua dunia yang berbeda. Inilah cara untuk mengintegrasikan keduanya."

Untuk membuat perangkat ini secara massal, peneliti memakai adaptasi sederhana dari teknik yang digunakan dalam industri semikonduktor. Saat ini, mc10 (Roger ikut mendirikan industri itu) sudah siap memproduksi dan mengomersialkan produk tersebut.

Ke depan, peneliti masih akan mengembangkan produk ini dan menambahkan kapabilitas Wi-Fi. Hail penelitian Roger, Coleman, dan Huang dipublikasikan dalam jurnal Science yang terbit pada hari ini.

Sumber :
kompas.com

7 Pelarian Dari Penjara Yang Nekad

Kabur dari penjara bukan semata rekaan seperti film seri "Prison Break". Kisah nyata cara kabur yang gila-gilaan justru jadi ilham film tersebut dan sejenisnya. 
Tentu, kisah ini tidak bermaksud mengajarkan kita cara kabur dari penjara. Namun, jadi inspirasi, bahwa sekuat apa pun manusia menciptakan "tembok" atau "kerangkeng" tetap ada cara kok membobolnya.



1. The Great Escape
Untuk sebuah perencanaan berikut resikonya, tidak ada yang jauh lebih kompleks daripada pelarian 76 tentara Sekutu dari Stalag Luft III di tahun 1944 (Stalag Luft III adalah sebuah penjara Jerman selama Perang Dunia II).

Cara melarikan dirinya dengan menggali tiga terowongan (dijuluki “Tom,” “Dick,” dan “Harry”) 30 kaki di bawah permukaan penjara dengan rencana melewati pagar utama dan muncul ke permukaan di dekat hutan. Hal ini membutuhkan proses konstruksi yang canggih yang meliputi penggunaan blok kayu untuk dukungan, serangkaian lampu, dan bahkan sebuah pompa untuk memastikan para serdadu penggali masih bisa bernapas.

Setelah mengumpulkan koleksi pakaian sipil dan paspor, pada 24 Maret 1944 mereka melarikan diri.

Sayangnya, di salah satu terowongan muncul para penjaga Nazi. 76 orang masih berhasil melarikan diri, tetapi buronan yang ke-77 melihat terowongan tersebut ditutup oleh penjaga.

Berkat popularitas kisah pelarian ini, menjadi inspirasi sebuah film “Great Escape”


2. Pascal Payet’s Helicopter Escapes

Banyak penjara di Eropa telah mempunyai pusat pelatihan heli di atap mereka. Seorang kriminal Perancis, Pascal Payet telah berulang kali menggunakan keuntungannya. Payet awalnya dipenjara karena kasus pembunuhan yang terjadi selama perampokan yang gagal pada mobil van keamanan, dan dihukum tiga puluh tahun di penjara Luynes, Perancis.

Pada tahun 2001, ia berhasil melarikan diri dengan bantuan seorang "kaki tangan" yang membajak helikopter dan menjemput Payet dari atap penjara, tempat pusat pelatihan heli tersebut.

Payet bahkan kembali ke penjara dua tahun kemudian dengan helikopter lain dan melanjutkan untuk membantu tiga tahanan lain untuk melarikan diri, tetapi keempat pria itu ditangkap kembali. Dan, Payet diberi hukuman tujuh tahun penjara atas perannya dalam pelarian dari penjara.

Hebatnya, pada tahun 2007 Payet lagi2 melarikan diri melalui helikopter, kali ini dari Grasse penjara di tenggara Perancis. Dia diangkat dari atap oleh empat kaki bertopeng yang telah membajak sebuah helikopter dari bandara terdekat dengan mengancam untuk membunuh pilot. Setelah mendarat di dekat Laut Tengah, pilot dirilis, dan Payet dan antek-anteknya menghilang tanpa jejak.


3. Dieter Dengler’s Prison Camp Escape

Dieter Dengler adalah seorang Jerman-amerika, pilot Angkatan Laut Amerika yang terkenal karena berhasil melarikan diri dari kamp penjara selama Perang Vietnam dari sebuah penjara di hutan.

Di awal tahun 1966, pesawat Dengler ditembak jatuh oleh pesawat anti api di Laos, dan ia ditangkap dan dikirim ke kamp penjara yang dikelola oleh Pathet Lao, sekelompok simpatisan Vietnam Utara. Pada 29 Juni 1966, ia dan enam tahanan lainnya berhasil melarikan diri. Setelah melumpuhkan tiga penjaga, Dengler melarikan diri ke hutan lebat.

Ia harus menghabiskan 23 hari di hutan dan harus beradaptasi dengan serangga, lintah, parasit, dan kelaparan sebelum diselamatkan oleh helikopter Amerika. Hanya satu dari tahanan lain, seorang kontraktor Thailand, selamat dari pelarian ini. Yang lainnya tewas atau hilang di hutan.

Dengler akan terus menjadi pilot penguji yang sukses di tahun-tahun berikutnya, dan sampai hari ini ia dikreditkan sebagai satu-satunya tentara Amerika yang berhasil melarikan diri dari kamp penjara selama Perang Vietnam. Bisa dibilang, Dengler memang "The Real Rambo"


4. Escape From Alcatraz

Pada tahun 1962, Frank Morris, Clarence, dan John Anglin menggunakan perencanaan dengan cermat untuk melarikan diri dari penjara prototipikal selama berbulan-bulan. Trio penjahan ini ditahan di penjara yang terkenal di Pulau Alcatraz, San Francisco, sebuah penjara khusus untuk penjahat yang paling keras dan dianggap sebagai salah satu penjara yang paling susah untuk melarikan diri.

Cara mereka melarikan diri dengan menggunakan serangkaian alat termasuk bor yang dirakit dari penyedot debu.  Mereka kemudian menuruni cerobong asap menuju pantai, di mana mereka dengan cepat membuat rakit dan melarikan diri ke San Fransisco Bay.

Pelarian mereka tidak disadari sampai keesokan paginya. Seperti di film-film Hollywood, taktiknya dengan membuat "orang-orangan" kepala boneka dari sabun, rambut manusia, dan kertas toilet, serta ditutup selimut agar terlihat sedang tidur di ranjang penjara.



5. The Maze Prison Escape

Tahun 1983, 35 napi melarikan diri setelah mengambil kendali penjara The Maze dengan cara kekerasan.

The Maze diperuntukkan bagi para militer Tentara Republik Irlandia teroris, dan dianggap sebagai salah satu penjara paling susah ditembus di Eropa. Tapi setelah beberapa bulan perencanaan, sekelompok tahanan yang dipimpin oleh anggota IRA, Gerry Kelly dan Bobby Storey, semua tahanan tersebut bisa menguasai seluruh blok penjara dengan menggunakan senjata yang telah diselundupkan ke penjara.

Setelah melukai beberapa penjaga dan mencuri seragam mereka, para tahanan membajak mobil dan mengambil alih pos jaga di dekatnya. Tetapi ketika mereka tidak bisa melewati gerbang utama, para pria melompat pagar dan kabur dengan berjalan kaki.

Laporan di tahun tersebut menyebut 35 orang melarikan diri dari penjara, enam belas di antaranya ditangkap kembali.




6. Billy Hayes’ Escape From Turkish Prison

Billy Hayes adalah seorang mahasiswa Amerika yang ditahan pada tahun 1970 ketika ia mencoba menyelundupkan dua pon hash (sejenis narkoba) ke dalam pesawat di Turki.

Setelah tertangkap, ia dijatuhi hukuman tiga puluh tahun di penjara Turki. Hayes bekerja keras di Penjara selama lima tahun, tapi ia akhirnya dipindahkan ke sebuah pulau penjara di Laut Marmara, dan di sini ia mulai serius merencanakan utk melarikan diri.

Pulau itu tidak ada perahu, tapi dekat dengan pelabuhan, dan ada kapal-kapal nelayan kecil setiap kali merapat saat datang badai besar.

Hayes menghabiskan berhari-hari bersembunyi di bin (tempat menyimpan gandum) dari beton. Ketika waktunya tepat, ia berenang ke pelabuhan dan mencuri sampan kecil. Dari sini, ia menuju Yunani, sebelum tiba dengan selamat kembali di Amerika Serikat.

Hayes kemudian menulis sebuah buku tentang siksaan yang disebut Midnight Express, yang diadaptasi menjadi sebuah film fiksi dengan nama yang sama. Wah, harus cari filmnya, nih :-)




7. Casanova’s Escape from the Leads

Pada tahun 1753, Giacomo Casanova ditangkap dan dipenjara di leads (Julukan penjara tersebut karena atapnya terbuat dari timah, sehingga suasana dalam sel menjadi sangat panas dan dirancang agar tahanan tidak mungkin melarikan diri). Setelah berhasil menyelundupkan paku ke dalam sel, Casanova dan seorang imam murtad berhasil mendekati terowongan melalui langit-langit sel mereka. Kemudian mereka membongkar sebuah piringan penutup di atap dan masuk ke ruangan lain melalui jendela atap.

Menggunakan kombinasi dari tangga dan tali, duo buron ini berhasil membuatnya sampai ke lantai dasar. Setelah memecahkan kunci dan menyelinap melalui lorong-lorong penjara, mereka melarikan diri dengan gondola ke jaringan kota sungai. Casanova kemudian menulis tentang pelarian dalam memoar yang populer. Meskipun banyak yang berspekulasi bahwa cerita tersebut mungkin banyak "bumbu tambahan", bukti dari tempat kejadian tampaknya memang benar.



Masih ada lagi cerita soal kabur dari penjara yang juga menakjubkan. Dan, terjadinya di negeri kita sendiri. Pernah dengar kisah "Jhonny Indo" ? Sebaiknya cari filmnya saja, ya....
sumber: overfame

Mirip Tato Padahal Sensor Elektronik

Perekayasa Amerika Serikat mengembangkan platform perangkat ultra-tipis yang fleksibel dan nyaman sehingga dapat ditempelkan di kulit bagaikan tato sementara. Perangkat tersebut bisa berfungsi sebagai sensor, membantu diagnosis medis, komunikasi, dan interface manusia-mesin.


http://assets.kompas.com/data/photo/2011/08/12/1558014620X310.jpg

Perangkat itu memiliki rangkaian elektronik yang tersusun atas sensor, transistor, kapasitor, antena wireless, LED, dan panel surya. Rangkaian tersusun di atas lembaran berbahan serupa karet yang mampu mengembang dan mengerut, menyesuaikan dengan kulit.

Lembaran dengan rangkaian elektronik tersebut dipasang pada plastik yang larut air. Untuk memasang, cukup berikan air dalam jumlah sedikit dan tempelkan perangkat di kulit. Seketika, perangkat akan menempel dan fleksibilitasnya bisa diuji.

"Menurut kami, perangkat ini adalah sebuah konsep maju tentang elektronik yang bisa dipakai untuk mencapai sesuatu yang tak pernah terpikir oleh pengguna," kata Todd Coleman, professor teknik komputer dan elektronik dari University of California di San Diego yang terlibat penelitian ini.

Ia mengatakan, teknologi ini adalah terobosan baru dalam elektronika. "Teknologi ini bisa menghubungkanmu ke dunia fisik dan dunia maya dengan cara yang sangat natural dan terasa nyaman," lanjut Coleman seperti dikutip situs Physorg.

Manfaat yang sudah bisa dibayangkan dari perangkat ini adalah pada bidang medis, seperti analisis EEG dan EMG untuk mengetahui aktivitas otot dan saraf. Untuk melakukannya, tak perlu lagi penggunaan gel konduktif, plester, dan pin yang ditanam sehingga lebih nyaman.

"Kalau kita ingin mengerti fungsi otak dalam kondisi yang natural, maka ini sangat tidak sesuai dengan prosedur EEG. Cara terbaik melakukannya adalah merekam sinyal saraf secara natural, dengan perangkat yang tak 'terlihat' oleh pemakai," kata Coleman.

Perangkat ini juga bisa dipakai selama aktivitas normal untuk memantau kesehatan dan kebugaran. Saat tidur, perangkat bisa dipakai memantau status kognitif dan perilaku. Sementara itu, bagi penderita gangguan saraf dan otot, alat ini bisa dipakai berkomunikasi dengan komputer.

Di antara beragam manfaat, salah satu yang sudah dibuktikan adalah kemampuan perangkat membedakan gerakan otot tenggorokan ketika manusia melakukan percakapan sederhana. Ilmuwan juga sudah membuktikan bahwa alat ini bisa dipakai untuk mengontrol video game.

John A Rogers dari University of Illinois, pimpinan proyek penelitian ini, dan grupnya, memang terkenal dengan pembuatan perangkat fleksibel. Namun, untuk menciptakan perangkat yang nyaman di kulit membutuhkan paradigma produksi yang berbeda.

"Perangkat yang bisa meregang buatan kami sebelumnya tak sesuai dengan mekanofisiologi kulit. Kulit sangat lembut tetapi permukaannya bisa kasar, dengan tekstur mikroskopik tertentu. Ini membutuhkan pendekatan dan prinsip desain yang berbeda," kata Rogers.

Dalam produksi perangkat ini, Rogers bekerja sama dengan Yonggang Huang dari Northwestern University untuk mengatasi kesulitannya. Mereka menciptakan geometri perangkat yang disebut filamentary serpentine, yang dengannya rangkaian komponen bisa dibuat sekecil mungkin.

Huang mengungkapkan, "Di sini, penggabungan elektronika dan biologi adalah kuncinya. Semua pembuatan perangkat elektronik sulit dan kaku, sementara biologi lembut dan elastis. Ini dua dunia yang berbeda. Inilah cara untuk mengintegrasikan keduanya."

Untuk membuat perangkat ini secara massal, peneliti memakai adaptasi sederhana dari teknik yang digunakan dalam industri semikonduktor. Saat ini, mc10 (Roger ikut mendirikan industri itu) sudah siap memproduksi dan mengomersialkan produk tersebut.

Ke depan, peneliti masih akan mengembangkan produk ini dan menambahkan kapabilitas Wi-Fi. Hail penelitian Roger, Coleman, dan Huang dipublikasikan dalam jurnal Science yang terbit pada hari ini.

Sumber :
kompas.com

7 Pelarian Dari Penjara Yang Nekad

Kabur dari penjara bukan semata rekaan seperti film seri "Prison Break". Kisah nyata cara kabur yang gila-gilaan justru jadi ilham film tersebut dan sejenisnya. 
Tentu, kisah ini tidak bermaksud mengajarkan kita cara kabur dari penjara. Namun, jadi inspirasi, bahwa sekuat apa pun manusia menciptakan "tembok" atau "kerangkeng" tetap ada cara kok membobolnya.



1. The Great Escape
Untuk sebuah perencanaan berikut resikonya, tidak ada yang jauh lebih kompleks daripada pelarian 76 tentara Sekutu dari Stalag Luft III di tahun 1944 (Stalag Luft III adalah sebuah penjara Jerman selama Perang Dunia II).

Cara melarikan dirinya dengan menggali tiga terowongan (dijuluki “Tom,” “Dick,” dan “Harry”) 30 kaki di bawah permukaan penjara dengan rencana melewati pagar utama dan muncul ke permukaan di dekat hutan. Hal ini membutuhkan proses konstruksi yang canggih yang meliputi penggunaan blok kayu untuk dukungan, serangkaian lampu, dan bahkan sebuah pompa untuk memastikan para serdadu penggali masih bisa bernapas.

Setelah mengumpulkan koleksi pakaian sipil dan paspor, pada 24 Maret 1944 mereka melarikan diri.

Sayangnya, di salah satu terowongan muncul para penjaga Nazi. 76 orang masih berhasil melarikan diri, tetapi buronan yang ke-77 melihat terowongan tersebut ditutup oleh penjaga.

Berkat popularitas kisah pelarian ini, menjadi inspirasi sebuah film “Great Escape”


2. Pascal Payet’s Helicopter Escapes

Banyak penjara di Eropa telah mempunyai pusat pelatihan heli di atap mereka. Seorang kriminal Perancis, Pascal Payet telah berulang kali menggunakan keuntungannya. Payet awalnya dipenjara karena kasus pembunuhan yang terjadi selama perampokan yang gagal pada mobil van keamanan, dan dihukum tiga puluh tahun di penjara Luynes, Perancis.

Pada tahun 2001, ia berhasil melarikan diri dengan bantuan seorang "kaki tangan" yang membajak helikopter dan menjemput Payet dari atap penjara, tempat pusat pelatihan heli tersebut.

Payet bahkan kembali ke penjara dua tahun kemudian dengan helikopter lain dan melanjutkan untuk membantu tiga tahanan lain untuk melarikan diri, tetapi keempat pria itu ditangkap kembali. Dan, Payet diberi hukuman tujuh tahun penjara atas perannya dalam pelarian dari penjara.

Hebatnya, pada tahun 2007 Payet lagi2 melarikan diri melalui helikopter, kali ini dari Grasse penjara di tenggara Perancis. Dia diangkat dari atap oleh empat kaki bertopeng yang telah membajak sebuah helikopter dari bandara terdekat dengan mengancam untuk membunuh pilot. Setelah mendarat di dekat Laut Tengah, pilot dirilis, dan Payet dan antek-anteknya menghilang tanpa jejak.


3. Dieter Dengler’s Prison Camp Escape

Dieter Dengler adalah seorang Jerman-amerika, pilot Angkatan Laut Amerika yang terkenal karena berhasil melarikan diri dari kamp penjara selama Perang Vietnam dari sebuah penjara di hutan.

Di awal tahun 1966, pesawat Dengler ditembak jatuh oleh pesawat anti api di Laos, dan ia ditangkap dan dikirim ke kamp penjara yang dikelola oleh Pathet Lao, sekelompok simpatisan Vietnam Utara. Pada 29 Juni 1966, ia dan enam tahanan lainnya berhasil melarikan diri. Setelah melumpuhkan tiga penjaga, Dengler melarikan diri ke hutan lebat.

Ia harus menghabiskan 23 hari di hutan dan harus beradaptasi dengan serangga, lintah, parasit, dan kelaparan sebelum diselamatkan oleh helikopter Amerika. Hanya satu dari tahanan lain, seorang kontraktor Thailand, selamat dari pelarian ini. Yang lainnya tewas atau hilang di hutan.

Dengler akan terus menjadi pilot penguji yang sukses di tahun-tahun berikutnya, dan sampai hari ini ia dikreditkan sebagai satu-satunya tentara Amerika yang berhasil melarikan diri dari kamp penjara selama Perang Vietnam. Bisa dibilang, Dengler memang "The Real Rambo"


4. Escape From Alcatraz

Pada tahun 1962, Frank Morris, Clarence, dan John Anglin menggunakan perencanaan dengan cermat untuk melarikan diri dari penjara prototipikal selama berbulan-bulan. Trio penjahan ini ditahan di penjara yang terkenal di Pulau Alcatraz, San Francisco, sebuah penjara khusus untuk penjahat yang paling keras dan dianggap sebagai salah satu penjara yang paling susah untuk melarikan diri.

Cara mereka melarikan diri dengan menggunakan serangkaian alat termasuk bor yang dirakit dari penyedot debu.  Mereka kemudian menuruni cerobong asap menuju pantai, di mana mereka dengan cepat membuat rakit dan melarikan diri ke San Fransisco Bay.

Pelarian mereka tidak disadari sampai keesokan paginya. Seperti di film-film Hollywood, taktiknya dengan membuat "orang-orangan" kepala boneka dari sabun, rambut manusia, dan kertas toilet, serta ditutup selimut agar terlihat sedang tidur di ranjang penjara.



5. The Maze Prison Escape

Tahun 1983, 35 napi melarikan diri setelah mengambil kendali penjara The Maze dengan cara kekerasan.

The Maze diperuntukkan bagi para militer Tentara Republik Irlandia teroris, dan dianggap sebagai salah satu penjara paling susah ditembus di Eropa. Tapi setelah beberapa bulan perencanaan, sekelompok tahanan yang dipimpin oleh anggota IRA, Gerry Kelly dan Bobby Storey, semua tahanan tersebut bisa menguasai seluruh blok penjara dengan menggunakan senjata yang telah diselundupkan ke penjara.

Setelah melukai beberapa penjaga dan mencuri seragam mereka, para tahanan membajak mobil dan mengambil alih pos jaga di dekatnya. Tetapi ketika mereka tidak bisa melewati gerbang utama, para pria melompat pagar dan kabur dengan berjalan kaki.

Laporan di tahun tersebut menyebut 35 orang melarikan diri dari penjara, enam belas di antaranya ditangkap kembali.




6. Billy Hayes’ Escape From Turkish Prison

Billy Hayes adalah seorang mahasiswa Amerika yang ditahan pada tahun 1970 ketika ia mencoba menyelundupkan dua pon hash (sejenis narkoba) ke dalam pesawat di Turki.

Setelah tertangkap, ia dijatuhi hukuman tiga puluh tahun di penjara Turki. Hayes bekerja keras di Penjara selama lima tahun, tapi ia akhirnya dipindahkan ke sebuah pulau penjara di Laut Marmara, dan di sini ia mulai serius merencanakan utk melarikan diri.

Pulau itu tidak ada perahu, tapi dekat dengan pelabuhan, dan ada kapal-kapal nelayan kecil setiap kali merapat saat datang badai besar.

Hayes menghabiskan berhari-hari bersembunyi di bin (tempat menyimpan gandum) dari beton. Ketika waktunya tepat, ia berenang ke pelabuhan dan mencuri sampan kecil. Dari sini, ia menuju Yunani, sebelum tiba dengan selamat kembali di Amerika Serikat.

Hayes kemudian menulis sebuah buku tentang siksaan yang disebut Midnight Express, yang diadaptasi menjadi sebuah film fiksi dengan nama yang sama. Wah, harus cari filmnya, nih :-)




7. Casanova’s Escape from the Leads

Pada tahun 1753, Giacomo Casanova ditangkap dan dipenjara di leads (Julukan penjara tersebut karena atapnya terbuat dari timah, sehingga suasana dalam sel menjadi sangat panas dan dirancang agar tahanan tidak mungkin melarikan diri). Setelah berhasil menyelundupkan paku ke dalam sel, Casanova dan seorang imam murtad berhasil mendekati terowongan melalui langit-langit sel mereka. Kemudian mereka membongkar sebuah piringan penutup di atap dan masuk ke ruangan lain melalui jendela atap.

Menggunakan kombinasi dari tangga dan tali, duo buron ini berhasil membuatnya sampai ke lantai dasar. Setelah memecahkan kunci dan menyelinap melalui lorong-lorong penjara, mereka melarikan diri dengan gondola ke jaringan kota sungai. Casanova kemudian menulis tentang pelarian dalam memoar yang populer. Meskipun banyak yang berspekulasi bahwa cerita tersebut mungkin banyak "bumbu tambahan", bukti dari tempat kejadian tampaknya memang benar.



Masih ada lagi cerita soal kabur dari penjara yang juga menakjubkan. Dan, terjadinya di negeri kita sendiri. Pernah dengar kisah "Jhonny Indo" ? Sebaiknya cari filmnya saja, ya....
sumber: overfame

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons