Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juni 2012

BID’AH-BID’AH YANG MENYEBAR DI BULAN RAJAB

 
1. Sholat Ar Raghaaib.
Sholat Ar Raghaaib ini diamalkan di setiap awal Jum’at di bulan Rajab. Ketahuilah semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala merahmatimu- bahwa mengagungkan hari ini, malam ini sesungguhnya diadakan ke dalam Din Islam ini setelah abad keempat Hijriyah. (Lihat literatur berikut ini tentang bid’ahnya sholat Raghaib :
  1.   “Iqtida’ As Shiratul Mustaqim” : hal.283. Dan “Tulisan Ilmiyah diantara dua orang Imam : Al ‘Izz bin ‘Abdus Salam dan Ibnu As Sholah sekitar Sholat Raghaaib.” 
  2.  “Al Ba’itsu ‘Ala Inkari Al Bida’ wa Al Hawaadist” : hal. 39 dan seterusnya. 
  3.   “Al Madkhal” oleh Ibnu Al Haaj : 1/293. 
  4.   “As Sunan wal Mubtadi’aat” : hal. 140. 
  5.   “Tabyiinul ‘Ujab bima warada fi Fadhli Rajab” : hal. 47. 
  6.   “Fataawa An Nawawiy” : hal. 26. 
  7.   “Majmu’ Al Fataawa oleh Ibnu Taimiyah” : 2/2. 
  8.   “Al Maudhuu’aat” : 2/124. 
  9.   “Allaalaaiy Al mashnu’ah” : 2/57. 
  10.  “Tanzihus Syari’ah” : 2/92. 
  11.  “Al Mughni ‘anil Hifdzi wal Kitab” : hall. 297- serta bantahannya : Jannatul Murtaab. 
  12.  “Safarus Sa’adah” : hal. 150. 

Sepakat ‘Ulama tentang hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai keutamaan bulan Rajab adalah palsu, sesungguhnya telah diterangkan oleh sekelompok Al Muhaditsin tentang palsunya hadits sholat Ar Raghaaib diantara mereka ialah : Al Haafidz Ibnu hajar, Adz Dzahabiy, Al ‘Iraaqiy, Ibnu Al Jauziy, Ibnu Taimiyah, An Nawawiy dan As Sayuthiy dan selain dari mereka. Kandungan dari hadits-hadits yang palsu itu ialraah mengenai keutamaan berpuasa pada hari itu, mendirikan malamnya, dinamakan “shalat Ar Raghaaib,” para ahli Tahqiiq dikalangan ahli ilmu telah melarang mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa, atau mendirikan malamnya melaksanakan sholat dengan cara yang bid’ah ini, demikian juga pengagungan hari tersebut dengan cara membuat makanan makanan yang enak-enak, mengishtiharkan bentuk bentuk yang indah indah dan selain yang demikian, dengan tujuan bahwa hari ini lebih utama dari hari hari yang lainnya.

2. Sholat Ummu Daawud di pertengahan bulan Rajab.
Demikian juga hari terakhir dipertengahan bulan Rajab, dilaksanakan sholat yang dinamakan sholat “Ummu Daawud” ini juga tidak ada asholnya sama sekali. “Iqtidaus Shiraatul Mustaqim” : hal. 293.
Berkata Al Imam Al Hafidz Abu Al Khatthaab : “Adapun sholat Ar Raghaaib, yang dituduh sebagai pemalsu hadits ini ialah : ‘Ali bin ‘Abdullah bin jahdham, dia memalsukan hadits ini dengan menampilkan rawi rawi yang tidak dikenal, tidak terdapat diseluruh kitab.” Pembahasan Abu Al Khatthaab ini terdapat dalam : “Al Baa’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal Ahadist” : hal. 40. Abul Hasan : ‘Ali bin ‘Abdullah bin Al Hasan bin Jahdham, As Shufiy, pengarang kitab : “Bahjatul Asraar fit Tashauf”. Berkata Abul Fadhal bin Khairuun : Dia pendusta. Berkata selainnya : Dia dituduh sebagai pemalsu hadits sholat Ar Raghaaib. Lihat terjemahannya dalam : “Al ‘Ibir fi Khabar min Ghubar.” : (3/116), “Al Mizan” : (3/142), “Al Lisaan” : (4/238), “Maraatul Jinaan” (3/28), “Al Muntadzim” : (8/14), “Al ‘Aqduts Tsamiin” : (6/179). Asal daripada sholat ini sebagaimana diceritakan oleh : At Thurthuusyiy dalam “kitabnya” : “Telah mengkhabarkan kepada saya Abu Muhammad Al Maqdisiy, berkata Abu Syaamah dalam “Al Baa’its” : hal. 33 : “Saya berkata : Abu Muhammad ini perkiraan saya adalah ‘Abdul ‘Aziz bin Ahmad bin ‘Abdu ‘Umar bin Ibraahim Al Maqdisiy, telah meriwayatkan darinya Makkiy bin ‘Abdus Salam Ar Rumailiy As Syahiid, disifatkan dia sebagai As Syaikh yang dipercaya, Allahu A’lam.” Berkata dia: tidak pernah sama sekali dikalangan kami di Baitul Maqdis ini diamalkan sholat Ar
Raghaaib, yaitu sholat yang dilaksanakan di bulan Rajab dan Sya’ban. Inilah bid’ah yang pertama kali muncul di sisi kami pada tahun 448 H, dimana ketika itu datang ke tempat kami di Baitil Maqdis seorang laki laki dari Naabilis dikenal dengan nama Ibnu Abil Hamraa’, suaranya sangat bagus sekali dalam membaca Al Quran, pada malam pertengahan (malam keenam belas) di bulan Sya’ban dia mendirikan sholat di Al Masjidil Aqsha dan sholat di belakangnya satu orang, lalu bergabung dengan orang ketiga dan keempat, tidaklah dia menamatkan bacaan Al Quran kecuali telah sholat bersamanya jama’ah yang banyak sekali, kemudian pada tahun selanjutnya, banyak sekali manusia sholat bersamanya, setelah itu menyebarlah di sekitar Al Masjidil Aqsha sholat tersebut, terus menyebar dan masuk ke rumah rumah manusia lainnya, kemudian tetaplah pada
zaman itu diamalkan sholat tersebut yang seolah olah sudah menjadi satu sunnah di kalangan masyarakat sampai pada hari kita ini. Dikatakan kepada laki laki yang pertama kali mengada-adakan sholat itu setelah dia meninggalkannya, sesungguhnya kami melihat kamu mendirikan sholat ini dengan jama’ah. Dia menjawab dengan mudah : “Saya akan minta ampun kepada Allah Ta’ala.” Kemudian berkata Abu Syaamah : “Adapun sholat Rajab, tidak muncul di sisi kami di Baitul Maqdis kecuali setelah tahun 480 H, kami tidak pernah melihat dan mendengarnya ebelum ini.” (Al Baa’itsu : hal. 32-33). Fatwa Ibnu As Sholaah tentang sholat Ar Raghaaib, Malam Nishfu Sya’ban

3. Sholat Al Alfiah.
Sesungguhnya As Syaikh Taqiyuddin Ibnu As Sholaah rahimahullah Ta’ala pernah dimintai fatwa tentang hal ini, lalu beliau menjawab: “Adapun tentang sholat yang dikenal dengan sholat Ar Raghaaib adalah bid’ah, hadits yang diriwayatkan tentangnya adalah palsu, dan tidaklah sholat ini dikenal kecuali setelah tahun 400 H, tidak ada keutamaan malamnya dari malam malam yang lainnya. Lihat Hadist hadist ini dalam kitab yang disebutkan di atas hal. 100-101, dan hal. 439-440. Diterjemahkan dari kitab Al Fawaaid Al Majmu’ah Al Ahadiits Al Maudhu’ah karya Syaikhul Islam Muhammad Bin ‘Ali As Syaukaniy (Wafat : 1250 H)

Dikutip dari website http://thullabul-ilmiy.or.id/modules/news/artikel.php?storyid=3
Sumber: www.salafy.or.id

Minggu, 01 April 2012

April Mop

 Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop, yang hanya berlaku pada tanggal 1 April, adalah hari dimana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orang tua, saudara, atau sejenisnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop.

Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan. Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine's Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.

Tahukah anda, bahwa perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu, sesungguhnya berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan??? April Mop, atau The April's Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487, atau bertepatan dengan 892 H. Sejak dibebaskan Islam pada abad ke- 8M oleh Panglima Thariq bin Ziyad,
Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur.

Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi
kepada suku Got dan Navaro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun
sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur'an, namun
bertingkah laku berdasarkan Al-Qur'an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas,
dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol. Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya.

Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al  Qur'an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan
perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai Pasukan Salib . Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.

Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan . Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar  meninggalkan Spanyol.

Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan Salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka.

Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka
membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya. Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol.
Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan
anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara Salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara Salib segara membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman. Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen setiap  tanggal 1 April sebagai April Mop (The April's Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat Kristiani, April Mop merupakan hari
kemenangan atas dibunuhnya ribuan  umat Islam Spanyol oleh tentara Salib lewat cara-cara penipuan.
Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuanan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.

Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.

Wahai saudara-saudariku sesama Muslim, sampai hatikah Anda  semua merayakan April Mop sekarang ini, setelah mengetahui apa yang sebenarnya melatarbelakangi  perayaan yang diadakan dunia Barat setiap tanggal 
 

Jumat, 16 Maret 2012

Celana Membawa Sengsara

Saudaraku… semoga Allah merahmatimu. Tidak ada yang diinginkan oleh Allah dan
Rasul-Nya kecuali kemaslahatan dan kebaikan umat ini. Semua perintah dalam agama
pasti di dalamnya mengandung kebaikan untuk diri kita. Begitu pula segala macam
larangan, tidak diragukan lagi di dalamnya banyak mengandung kemudhorotan bagi umat
ini, baik disadari hikmahnya ataupun tidak. Oleh sebab itu Islam adalah agama yang
sempurna. Karena segala sesuatu yang dapat menghantarkan makhluk kepada
kebahagiaan dan segala hal yang dapat menjerumuskan makhluk ke dalam jurang
kesengsaraan sudah dijelaskan dalam syari’at kita yang mulia ini dengan sejelas-jelasnya.
Ketahuilah wahai saudaraku… sesungguhnya ada celana yang dapat menjatuhkanmu ke
lembah kesengsaraan (baca: neraka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apa saja yang di bawah mata kaki maka di neraka.” (HR. Bukhari). Maksudnya bagian
kaki yang terkena sarung/celana yang berada di bawah mata kaki, akan diazab di neraka,
bukan sarung/celananya. Jadi, perbuatan menurunkan pakaian hingga menutupi mata kaki
(baca: isbal) baik dilakukan dengan kesombongan ataupun tidak, maka pelakunya
(musbil) akan diazab di neraka. Hanya saja bedanya jika dilakukan dengan kesombongan
maka ini lebih parah dan lebih dahsyat lagi siksanya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan yang Allah tidak berbicara dengan
mereka pada hari kiamat, tidak memperhatikan mereka dan tidak mensucikan mereka
(dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku isbal (musbil),
pengungkit pemberian (mannan) dan orang yang menjual barang dagangannya dengan
sumpah palsu.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, An Nasa’i)


Pakaian Rasulullah Sampai Setengah Betis
Allah berfirman, ” Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat.” (Al Ahzab: 21)
. Saudaraku… apa yang menghalangimu untuk mengikuti dan
mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah pakaian beliau! Beliau
orang yang paling bertaqwa, paling takut kepada Allah, paling tidak mungkin untuk
sombong, paling rajin beribadah, paling mulia di sisi Allah, tetapi pakaian yang beliau
kenakan tidak menutup mata kaki beliau. Bahkan celana beliau hanya sampai setengah
betis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sarung seorang muslim
hingga tengah betis dan tidak mengapa jika di antara tengah betis hingga mata kaki.
Maka apa yang di bawah mata kaki, tempatnya di neraka. Barangsiapa yang menyeret
sarungnya (sampai menyapu tanah-pen) karena sombong maka Allah tidak akan
melihatnya.” (HR. Abu Dawud, Malik, dan Ibnu Majah)
Bukankah Rasulullah adalah
qudwah/teladan kita di segala aspek kehidupan?! Lalu mau dikemanakan hadits beliau,
“Barangsiapa yang meniru-niru gaya suatu golongan, maka ia termasuk bagian dari
golongan tersebut.” ?! Apakah kita tidak ingin bergabung dengan golongan beliau?

Masalah Isbal Bukan Perkara ‘Kulit’
Lihatlah ‘Umar bin Khaththab ketika dalam kondisi yang sangat kritis (setelah ditikam
perutnya hingga robek ususnya), masih menyempatkan diri untuk melarang kemungkaran
yang satu ini (baca: isbal). Ini menunjukkan bahwa isbal bukan masalah sepele. Kalau
benar isbal adalah masalah sepele, lalu apakah kita akan mengatakan masuk neraka
adalah masalah sepele?
Wahai saudaraku… semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita. Marilah kita
mengenakan pakaian dengan menggunakan tuntunan agama. Jangan sampai pakaian yang
kita pakai, celana yang kita kenakan justru menjadi bumerang bagi kita yang ujung-ujungnya menghantarkan kita sampai ke dalam neraka. Wal ‘iyaadzu billah. Wallahu
a’lam.

Senin, 15 Agustus 2011

Hukum Berziarah Tahunan yang Terbatas (Waktu dan Tempatnya) ke Sebagian Kuburan

Bukan hanya musik, nyanyian ataupun minuman keras yang digandrungi oleh sebagian kaum
muslimin. Akan tetapi mereka pun gandrung kepada yang namanya bid’ah bahkan kesyirikan -dan tentunya semuanya ini adalah kemunkaran yang harus diingkari dan dihilangkan-. Di antara
kebid’ahan ataupun kesyirikan yang mereka gandrungi adalah berziarah ke kuburan-kuburan
tanpa mengindahkan syarat-syaratnya.

Di antara mereka ada yang bersungguh-sungguh menyengaja mengadakan tour (perjalanan) ke
kuburan tertentu bahkan dengan bangga dipasang pengumuman di masjid-masjid "Ikuti Ziarah
Kubur ke Syaikh Fulan, dengan biaya perjalanan sekian". Yang datang ke sana pun macam-macam tujuannya, ada yang ingin cari berkah dari kuburan tersebut (ngalap berkah), cari rizki,
cari jodoh, cari ketenaran atau ada juga yang hanya sekedar bermaksiat dengan lawan jenisnya.
Suatu perbuatan yang melanggar syari’at, membuang-buang waktu dan harta belaka. Innaa
lillaah wa innaa ilaihi raaji’uun.
Sesungguhnya ziarah-ziarah seperti ini apakah tahunan, bulanan ataupun yang sifatnya tertentu
dan terbatas (waktu dan tempatnya) ke sebagian kuburan, di mana terjadi padanya berbagai
kemunkaran seperti ikhtilath, tarian, ratap tangis dan yang lainnya dari berbagai jenis
kemunkaran, tidaklah dibenarkan oleh syari’at sedikit pun, bahkan hal ini termasuk perbuatan
yang diada-adakan dalam agama (baca: bid’ah), dan peribadatan yang jelek yang Allah tidak
menurunkan sedikit pun keterangan akan hal ini.
Adalah wajib bagi orang-orang yang bertanggung jawab (dari kalangan penguasa) semoga Allah
memantapkan kita dan mereka di atas Al-Haq- dan ‘ulama semoga Allah memberikan taufiq
kepada kita dan mereka- agar merubah kemunkaran yang jelek seperti ini yang mengajak kepada
penghancuran ‘aqidah islamiyyah dari hati-hati kaum muslimin yang laki-laki maupun
perempuannya dengan adanya do’a mereka, penyembelihan, nadzar mereka untuk selain Allah
dan praktek-praktek kesyirikan yang lainnya, dan juga akan mengajak kepada penghancuran
akhlaq islamiyyah yang kuat.



-->Macam-macam Ziarah Kubur
 
Kemudian ketahuilah semoga Allah memberikan taufiq kepadaku dan kepada kalian-
bahwasanya ziarah kubur terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. Ziarah Syar’i
Yaitu ziarah yang telah disyari’atkan oleh Islam dan harus terpenuhi padanya tiga syarat:

1). Tidak sungguh-sungguh (menyengaja) mengadakan perjalanan kepadanya
Dalilnya adalah hadits dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Janganlah kalian bersungguh-sungguh
(menyengaja) mengadakan perjalanan kecuali kepada tiga masjid (yaitu): masjidku ini (Masjid
Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha." (HR. Al-Bukhariy no.1139 dan Muslim dalam
kitab Al-Hajj 2/976 nomor khusus 415 dan ini lafazhnya, dan diriwayatkan pula oleh Al-Bukhariy no.1132 dan Muslim no.1397 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan lafazh
penafian)

 
Kita disyari’atkan bersungguh-sungguh dan menyengaja untuk mengadakan perjalanan ke tiga
masjid ini karena adanya keutamaan di sana yaitu dilipatkan pahala shalat di tiga masjid tersebut.
Seperti shalat di Masjidil Haram maka pahalanya sama dengan 100.000 kali shalat di masjid
yang lain selain Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Adapun bersungguh-sungguh (menyengaja)
mengadakan perjalanan ke selain tiga masjid ini dalam rangka mencari berkah dan keutamaan
seperti ke kuburan, maka ini adalah perbuatan bid’ah.
 
2). Tidak boleh mengatakan perkataan yang keji
Dalilnya adalah hadits dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "(Dulu) Aku pernah melarang kalian berziarah kubur,
maka (sekarang) berziarahlah kalian." (HR. Muslim no.977). Diriwayatkan juga oleh An-Nasa`iy dengan sanad shahih dalam kitab Al-Janaa`iz bab (100) 4/89 dengan lafazh, "… (Dulu)
Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) barangsiapa yang ingin
berziarah maka berziarahlah dan jangan mengatakan perkataan yang keji."


Maka perhatikanlah semoga Allah merahmatimu, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam melarang kita dari perkataan yang keji dan bathil ketika ziarah kubur, dan ucapan yang
mana yang lebih keji dan lebih bathil daripada ucapan seseorang yang berdo’a (meminta) kepada
selain Allah dari orang-orang yang telah mati, beristighatsah (meminta pertolongan ketika dalam
kesulitan) kepada mereka ataupun ucapan-ucapan syirik lainnya?

Maka tentunya ini, demi Allah, benar-benar kekejian dan kebathilan yang paling puncaknya,
akan tetapi perkaranya adalah sebagaimana yang Allah firmankan (yang artinya), "Akan tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui." Ayat ini terdapat dalam 11 tempat di dalam Al-Qur`an
yaitu, Al-A’raaf:187, Yuusuf:21, 40, 68, An-Nahl:38, Ar-Ruum:6, 30, Saba`:28, 36, Al-Mu`min:57, dan Al-Jaatsiyah:26.
 Dan sungguh benar Allah ketika berfirman (yang artinya),"Dan sebahagian besar dari mereka
tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan
sembahan-sembahan lain)." [Yuusuf:106]


3). Tidak boleh mengkhususkan dengan waktu tertentu karena tidak ada dalil yang
mengkhususkan
Seperti mengkhususkan hari jum’at, hari raya ataupun hari-hari lainnya, karena tidak ada dalil
yang menerangkan hal ini. Bahkan kita dianjurkan ziarah kubur kapan saja tanpa pengkhususan
pada hari-hari tertentu.

2. Ziarah Bid’ah
Yaitu ziarah yang tidak terpenuhi padanya satu syarat dari syarat-syarat yang telah disebutkan,
apalagi lebih dari satu syarat. Misalnya datang dari jauh-jauh untuk ziarah ke kuburan, atau
beribadah kepada Allah di sekitar kuburan dengan anggapan dan perasaan mereka bahwa hal ini
lebih mengkhusyu’kan dalam beribadah. Atau mengkhususkan hari-hari tertentu. Semuanya ini
adalah perbuatan bid’ah.

3. Ziarah Syirik 
Yaitu ziarah di mana pelakunya terjerumus pada salah satu jenis dari jenis-jenis kesyirikan
seperti berdo’a (meminta) kepada selain Allah, atau menyembelih untuk mereka, atau bernadzar
untuk mereka, atau beristighatsah kepada mereka, atau meminta perlindungan kepada mereka,
atau meminta anak, meminta pertolongan, hujan, kesembuhan atau untuk mengalahkan musuh
dan menghilangkan kemudharatan/bahaya serta mendatangkan kemanfaatan dan yang lainnya
dari jenis-jenis kesyirikan. (Lihat Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah 1/165-166)
 
Disadur dari Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid hal.192-194
Sumber: Bulletin Al Wala’ Wal Bara’ 
Judul Asli: Ziarah Kubur Antara Syar’i dan Bid’ah
Edisi ke-31 Tahun ke-3 / 01 Juli 2005 M / 23 Jumadil Ula 1426 H 

Kamis, 11 Agustus 2011

Hadist Palsu Nan Populer


Bertebaran hadits-hadits palsu di sekitar kita adalah diantara sekian banyak sebab yang menyeret
umat ini ke jurang kebinasaan aqidah, ibadah dan muamalah. Bagaimana tidak, hadits-hadits
tersebut sengaja dibuat-buat oleh mereka yang menyimpan kedengkian yang dalam kepada Islam
dan muslimin guna menjerumuskan ummat ini ke dalam keterpurukan akibat yang meyakini
sesuatu yang sebenarnya palsu. Sungguh tidak sama sabda Nabi Sholalallahu ‘Alaihi Wasallam
dengan celotehan manusia biasa.
 

"Agama ini akal, barangsiapa tidak beragama maka ia tidak berakal" 
Komentar pakar hadits:
Al Imam An Nasa’i dalam Al Kuuna, berkata: "Ini Adalah Hadits batil yang munkar".
Berkata Ibnul Qayyim dalam Al Manar hal 25 "Hadits-hadits yang berbicara tentang akal
seluruhnya kadzib (dusta)". Lihat Ad Dhaifah (no 1 halaman 53).
 

"Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan beramallah
untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok"
 

"Cinta tanah air sebagian dari iman" 
Komentar pakar hadits:

Hadits ini palsu sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Ash Shan’ani Rahimahullah dan yang
selainnya. Lihat Ad Dhaifah (no 36 halaman 110)


 "Perbedaan umatku adalah rahmat"
Al Manawi menukil dari As Subki bahwa ia berkata, "Hadits ini tidak dikenal di kalangan
ahli hadits dan saya belum mendapatkannya dengan sanad yang shahih atau dhaif
maupun yang palsu". Lihat Ad Dhaifah (no 57 halaman 14
1).

"Tuntulah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina" 
 

Komentar pakar hadits:
Hadits ini bathil. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi (2/207) dan Abu Nu’aim dalam Akhbar
Ashbahan (106/2). Lihat Ad Dhaifah (no 416 halaman 600)
 

 

Sumber: Majalah As Salam no IV/Tahun II- 2006/1427 Hijriyah

Derajat Hadits Fadhilah Surat Yasin

Derajat Hadits Fadhilah Surat Yasin
Kebanyakan kaum muslimin membiasakan membaca surat Yasin, baik pada malam
Jum’at, ketika mengawali atau menutup majlis ta’lim, ketika ada atau setelah kematian
dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting. Saking seringnya surat Yasin
dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan, Al-Qur’an itu hanyalah berisi surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang
karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan surat Yasin dari hadits-hadits yang banyak
mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.

Al-Qur’an yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas, jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib
mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa
membaca Al-Qur’an. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Al-Qur’an setiap
pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan
sekali. (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya).

Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini,
adalah dengan membahas masalah ini bukan berarti penulis melarang atau
mengharamkan membaca surat Yasin.
Sebagaimana surat-surat Al-Qur’an yang lain, surat Yasin juga harus kita baca. Akan
tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan
tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Selain itu, untuk menegaskan bahwa tidak ada tauladan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam membaca surat Yasin setiap malam Jum’at, setiap memulai atau menutup majlis
ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.
Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah
memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an serta
mengamalkannya.

*KELEMAHAN HADITS-HADITS TENTANG FADHILAH SURAT YASIN

Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di
atas- fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi,
setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan
fadhilah surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah.
Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta
atas nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah
Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).

HADITS DHA’IF DAN MAUDHU’ Adapun hadits-hadits yang semuanya dha’if (lemah) dan atau maudhu’ (palsu) yang
dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut :

Hadist 1
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun
pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam
Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.” (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at,
1/247).

Keterangan: Hadits ini Palsu.
Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya.
Imam Daruquthni berkata: Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini
adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa: Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I/246-247,
Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No.
944).


Hadits 2
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan
Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.”

Keterangan: Hadits ini Lemah.
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu
Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia
munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa:
Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465).

Hadits 3
Artinya: “Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian
ia mati maka ia mati syahid.”

Keterangan: Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam
sanadnya ada Sa’id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu
Hibban sering memalsukan hadits. (Periksa: Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I’tidal
II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45).

Hadits 4
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan
diluluskan semua hajatnya.”

Keterangan: Hadits ini Lemah.
Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha’ bin Abi Rabah,
pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab ia
lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.
(Periksa: Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I’tidal
III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22).

Hadits 5
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an
dua kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Keterangan: Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha’if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits 6
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an
sepuluh kali.” (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Keterangan: Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha’if Jami’ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani).

Hadits 7
Artinya: “Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur’an itu
ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi
bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali.”

Keterangan: Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 304 8) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya
terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata: Aku mendapati hadits ini
di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak
ada asalnya. (Periksa: Silsilah Hadits Dha’if no. 169, hal. 202-203). Imam Waqi’ berkata:
Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i: Muqatil bin Sulaiman sering dusta.
(Periksa: Mizanul I’tidal IV:173).

Hadits 8
Artinya: “Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan
(untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam
(sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi.”

Keterangan: Hadits ini Lemah.
Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits
ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar: Ia banyak memursalkan hadits dan
banyak keliru. (Periksa: Taqrib I:355, Mizanul I’tidal II:283).

Hadits 9
Artinya: “Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu.”
Keterangan: Hadits ini Lemah.
Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu
Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah
seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga
mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).

Hadits 10
Artinya: “Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya
sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya.”

Keterangan: Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam
sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata,
ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul
hadits. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa: Mizanul
I’tidal IV : 90-91).
PENJELASAN
Abdullah bin Mubarak berkata: Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah
surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Semua hadits yang
mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu
SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang
memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami
membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat
tertentu dari Al-Qur’an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur’an yang lain, juga kitab-
kitab selain Al-Qur’an. (Periksa: Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha’if, hal. 113-115).

KESIMPULAN
Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat
Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak
dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain,
dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang
membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur’an
selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala. Wallahu A’lam.

Bid'ah

Pembagian Bid'ah Dan Hukum Bid'ah Dalam Agama Islam


>> PEMBAGIAN BID’AH.[1]

1. Bid’ah Haqiqiyah.
Yakni bid’ah yang tidak memiliki indikasi dari syar’i baik dari Kitabullah, dari Sunnah dan Ijma’. Dan juga tidak ada dalil yang
digunakan oleh para ulama baik secara global maupun rinci. Oleh sebab itu, disebut sebagai bid’ah karena ia merupakan hal
yang dibuat-buat dalam perkara agama tanpa contoh sebelumnya[2].
Di antara contohnya adalah bid’ahnya perkataan Jahmiyah yang menafikan Sifat-Sifat Allah, bid’ahnya Qadariyah, bid’ahnya
Murji’ah dan lainnya yang mereka mengatakan apa-apa yang tidak dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan
para Shahabatnya
Contoh lain adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan hidup kependetaan (seperti pendeta) dan mengadakan perayaan
maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Isra’ Mi’raj dan lainnya.

2. Bid’ah Idhafiyah.
Adapun bid’ah Idhafiyah adalah bid’ah yang mempunyai dua sisi. Pertama, terdapat hubungannya dengan dalil. Maka dari sisi
ini dia bukan bid’ah. Kedua, tidak ada hubungannya sama-sekali dengan dalil melainkan seperti apa yang terdapat dalam bid’ah
haqiqiyah. Artinya ditinjau dari satu sisi ia adalah Sunnah karena bersandar kepada Sunnah, namun ditinjau dari sisi lain ia
adalah bid’ah karena hanya berlandaskan syubhat bukan dalil.
Adapun perbedaan atara keduanya dari sisi makna adalah bahwa dari sisi asalnya terdapat dalil padanya. Tetapi jika dilihat dari
sisi cara, sifat, kondisi pelaksanaannya atau perinciannya, tidak ada dalil sama sekali, padahal kala itu ia membutuhkan dalil.
Bid’ah semacam itu kebanyakan terjadi dalam ibadah dan bukan kebiasaan semata.
Atas dasar ini, maka bid’ah Haqiqi lebih besar dosanya karena dilakukan langsung oleh pelakunya tanpa perantara, sebagai
pelang-garan murni dan keluar dari syari’at sangat jelas, seperti ucapan kaum Qadariyah yang menyatakan baik dan buruk
menurut akal, mengingkari hadits ahad sebagai hujjah[3], mengingkari adanya Ijma’, mengingkari haramnya khamer,
mengatakan bahwa para Imam adalah ma’shum[4] (terpelihara dari dosa)... dan hal-hal lain yang seperti itu[5]. 
Dikatakan bid’ah Idhofiyah artinya bahwa bid’ah bila ditinjau dari satu sisi disyari’atkan tapi dari sisi lain ia hanya pendapat
belaka. Sebab dari sisi orang yang membuat bid’ah itu dalam sebagian kondisinya masuk dalam kategori pendapat pribadi dan
tidak di-dukung oleh dalil-dalil dari setiap sisi[6].

>>  HUKUM BID’AH DALAM AGAMA ISLAM.

Sesungguhnya agama Islam sudah sempurna dengan wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Suabhnahu wa
Ta'ala berfirman:

"Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maaidah: 3]


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikan semua risalah, tidak ada satupun yang ditinggalkan. Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menunaikan amanah dan menasehati umatnya. Kewajiban seluruh umat mengikuti petunjuk
Nabi Muhammad 'Alaihi Shallatu wa sallam, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi
wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan. Wajib bagi seluruh ummat untuk mengikuti beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam dan tidak berbuat bid’ah serta tidak mengadakan perkara-perkara yang baru karena setiap yang baru dalam
agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat.
Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan haram, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa
salla
"Artinya : Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap
bid’ah adalah sesat.”[7]


Demikian juga sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam

"Artinya :Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia
tertolak”[8]


Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa perkara baru yang dibuat-buat dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu
sesat dan tertolak. Bid’ah dalam agama itu diharamkan. Namun tingkat keharamannya berbeda-beda tergantung jenis bid’ah itu
sendiri.
Ada bid’ah yang menyebabkan kekufuran (Bid’ah Kufriyah), seperti berthawaf keliling kuburan untuk mendekatkan diri
kepada para penghuninya, mempersembahkan sembelihan dan nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo’a kepada mereka,
meminta keselamatan kepada mereka, demikian juga pendapat kalangan Jahmiyah, Mu’tazilah dan Rafidhah.
Ada juga bid’ah yang menjadi sarana kemusyrikan, seperti mendirikan bangunan di atas kuburan, shalat dan berdoa di atas
kuburan dan mengkhususkan ibadah di sisi kubur.
Ada juga perbuatan bid’ah yang bernilai kemaksiyatan, seperti bid’ah membujang -yakni menghindari pernikahan- puasa
sambil berdiri di terik panas matahari, mengebiri kemaluan dengan niat menahan syahwat dan lain-lain[9]
Ahlus Sunnah telah sepakat tentang wajibnya mengikuti al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, yaitu
tiga generasi yang terbaik (Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in) yang disaksikan oleh Nabi bahwa mereka adalah sebaik-baik
manusia. Mereka juga sepakat tentang keharamannya bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan kebinasaan, tidak ada bid’ah
yang hasanah.

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma berkata:

"Artinya : Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandang baik.” [10]

Imam Sufyan ats-Tsaury Rahimahullah (wafat th. 61 H)[11] berkata:

"Artinya : Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiyatan dan pelaku kemaksiyatan masih mungkin dia untuk
bertobat dari kemaksiyatannya sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya.” [12]
 

Imam al-Barbahary Rahimahullah berkata: “Jauhilah setiap perkara bid’ah sekecil apapun, karena bid’ah yang kecil lambat laun
akan menjadi besar. Demikian pula kebid’ahan yang terjadi pada ummat ini berasal dari perkara kecil dan remeh yang mirip
kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikat hati mereka sehingga susah untuk keluar dari
jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan-pelan mereka menyelisihi jalan
lurus dan keluar dari Islam.”[13]
_________
Foote Note

[1]. Lihat al-I’tisham (I/367), dan seterusnya.
[2]. Ibid.
[3]. Sebagaimana yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir dan orang-orang yang serupa dengannya. Lihat kitab ‘Ilmu Ushuulil Bida’
(hal. 148).
[4]. Seperti yang diyakini oleh Syi’ah Imamiyah.
[5]. Al-I’tisham (I/221). 
[6]. Ibid.
[7]. HR. Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), Ahmad (IV/46-47) dan Ibnu Majah (no. 42, 43, 44). Hasan Shahih,
dari Shahabat ‘Irbadh bin Saariyah Radhiyallahu 'anhu.
[8]. HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha. 
[9]. Lihat Kitabut Tauhid (hal. 82 ) oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dan Nuurus Sunnah wa Zhulumatul Bid’ah (hal.
76-77).
[10]. Riwayat al-Laalika-iy dalam Syarah Ushuul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 126), Ibnu Baththah al-‘Ukbary fil
Ibaanah (no. 205). Lihat ‘Ilmu Ushulil Bid’ah (hal. 92).
[11]. Nama lengkapnya adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri. Abu ‘Abdillah al-Kufi, seorang hafizh yang tsiqah,
faqih, ahli ibadah dan Imamul hujjah. Beliau meninggal pada tahun 61 H pada usia 64 tahun. Lihat biografi beliau di dalam
kitab Taqriibut Tahdziib (I/371).
[12]. Riwayat al-Lalikaiy dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah no. 238.
[13]. Syarhus Sunnah lil Imam al-Barbahary (no. 7), tahqiq Khalid bin Qasim ar-Radady, cet. II-Daarus Salaf, th. 1418 H.

Senin, 08 Agustus 2011

HADIST TENTANG BENAR DAN DUSTA

1. Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong). (HR. Bukhari)

2. Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. (HR. Muslim)

3. Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia...celaka dia. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
4. Seorang mukmin mempunyai tabiat atas segala sifat aib kecuali khianat dan dusta. (HR. Al Bazzaar)
5. Rasulullah Saw membolehkan dusta dalam tiga perkara, yaitu dalam peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa dan pembicaraan suami kepada isterinya. (HR. Ahmad)
Penjelasan:
Bila dikhawatirkan ucapan suami yang benar dapat berakibat buruk, maka suami boleh berdusta kepada isteri untuk memelihara kerukunan.

6. Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada kawanmu dan dia mempercayai kamu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong kepadanya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
7. Sesungguhnya Allah menyukai dusta yang bertujuan untuk memperbaiki dan mendamaikan (merukunkan), dan Allah membenci kebenaran (kejujuran) yang mengakibatkan kerusakan. (HR. Ibnu Babawih)

 Sumber:www.wirausahapesantren.blogspot.com

Rabu, 03 Agustus 2011

Beberapa Kesalahan Manusia Dalam Masjid


Masjid adalah tempat pembinaan umat yang sangat penting. Di tempat yang mulia ini ada
adab-adab yang perlu diperhatikan ketika kita berhubungan dengan masjid, namun
banyak kaum muslimin yang melalaikan adab-adab tersebut padahal mereka berada di
rumah-rumah milik Alloh. Di sini insya Alloh akan sedikit dibahas beberapa kesalahan
yang paling sering terjadi.

1.Memakai Pakaian yang Tidak Bagus Ketika Sholat

Kaum Muslimin yang semoga dirohmati Alloh Ta’ala, Alloh tidak hanya memerintahkan
kita untuk sekedar memakai pakaian yang menutup aurot, akan tetapi memerintahkan kita
pula untuk memperbagus pakaian apalagi ketika ke masjid. Alloh berfirman, “Hai anak
adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al A’raf: 31).

Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa dari ayat ini dapat diambil
pelajaran bahwa kita disunnahkan berhias ketika sholat, lebih-lebih ketika hari jumat dan
hari raya. Dan termasuk perhiasan adalah siwak dan parfum.
Namun sekarang banyak kita jumpai kaum muslimin yang ketika pergi ke masjid hanya
mengenakan pakaian seadanya padahal ia memiliki pakaian yang bagus. Bahkan tidak
sedikit yang mengenakan pakaian yang penuh gambar atau berisi tulisan-tulisan jahil.
Akibatnya, mau tidak mau orang yang ada dibelakangnya akan melihat dan membaca
sehingga rusaklah konsentrasinya.

2.Tidak Meluruskan Shof dan Enggan di Shof Pertama

Di banyak masjid, kerapian, kelurusan dan kerapatannya shof sholat berjamaah seringkali
diabaikan. Padahal shof yang tidak rapat akan mengganggu ketenangan sholat.
Rosululloh bersabda, “Luruskanlah shofmu atau Alloh akan menaruh permusuhan dan
kemarahan dalam hati kalian.” (HR. Muslim)
. Sahabat Nu’man bin basyir rodhiyallohu
‘anhu berkata, “Kami melihat salah satu di antara kami menyentuhkan pundaknya
dengan pundak temannya.” Bahkan Imam Bukhori dalam kitab shohihnya beliau
membuat satu judul bab, “Bab hendaknya pundak menyentuh pundak dan kaki
menyentuh kaki dalam pengaturan shof.”
Selain itu, kadang seseorang malas berada di shof pertama dan lebih suka berada di shof
belakang. Bahkan ia malah mempersilakan orang lain mengisi shof pertama sementara ia
sendiri ada di belakang. Rosululloh bersabda, “Andaikan manusia tahu betapa besar
pahala orang yang menjawab adzan dan shof yang pertama, lalu ia tidak
mendapatkannya kecuali dengan undian tentu ia akan mengikutinya.” (HR. Bukhori)

3.Berjalan Tergesa-Gesa dan Tidak Segera Sholat Bersama Imam Ketika Masbuq

Seorang yang khawatir ketinggalan sholat (masbuq) hendaklah tetap berjalan dengan
tenang dan tidak tergesa-gesa apalagi sampai berlari untuk menuju ke masjid. Rosululloh
bersabda, “Jika kalian mendengarkan iqomat, hendaklah berjalan untuk sholat. Wajib
bagimu untuk mendatanginya dengan tenang dan janganlah lari terburu-buru. Apa yang
kalian dapati bersama imam maka kerjakanlah dan yang kurang sempurnakanlah.” (HR.
Bukhori)

Kadang ada makmum masbuq yang ketika mendapati imam yang sedang sujud tidak
segera takbirotul ihrom dan sujud, tetapi justru menunggu sampai imam berdiri.
Perbuatan ini bertentangan dengan sunnah, berdasarkan hadis di atas dan hadits:
“Sesungguhnya imam itu dijadikan panutan, jika ia bertakbir maka bertakbirlah, jika ia
sujud maka bersujudlah dan jika ia bangun maka bangunlah.” (HR. Muslim)

4.Jual Beli Dalam Masjid

Jual beli di dalam masjid hukumnya haram, berdasarkan hadits: “Apabila kalian melihat
orang menjual atau membeli barang dalam masjid maka katakan kepadanya: ‘Semoga
Alloh tidak memberi keuntungan dalam jual-belimu’.” (HR. Tirmidzi)
. Hadits ini juga
memerintahkan kita yang melihatnya untuk mengatakan: ‘Semoga Alloh tidak memberi
keuntungan dalam jual-belimu’ sebagai teguran dalam bentuk doa, karena memang
masjid dibangun bukan untuk jual beli. Wallohu a’lam bish showab.

Adab Bersedekah

-------------------
1.Luruskan niat!
Hendaklah yang dicari hanyalah wajah Allah semata, bukan karena riya' atau
ingin dipuji manusia dengan dikatakan dermawan.

2. Harus dari harta yang halal!
3.Sedekah dengan harta yang paling dicintai


4.Mendahulukan kerabat terdekat
Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam (yang artinya):
"Sedekah kepada orang miskin mendapat satu sedekah, dan sedekah kepada
saudara kerabat mendapat dua pahala; pahala sedekah dan pahala menyambung
tali silaturahmi." (HR. Ahmad (IV/18). Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini
hasan dalam al Irwaa' (no. 883)).

5.Jangan sembarangan memberi orang
 
6.Menyembunyikan sedekah
Sebisa mungkin hendaknya bagi orang yang sedekah untuk menyembunyikan
sedekahnya, kecuali apabila menampakkan sedekah membawa mashlahat yang
kuat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):

"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka hal itu adalah baik sekali. Dan
jika kamu menyembunyikannya, dan kamu berikan kepada orang orang fakir,
maka menyembunyikan itu lebih baik lagi bagimu. Dan Allah akan
menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan kesalahanmu; dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Baqarah: 271).


7.Keluarkan sedekah walaupun sedikit
8.Tunaikan zakat yang wajib!
 
9.Lembut kepada fakir miskin dan jangan diungkit ungkit!
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
"Orang orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak
mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut
pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka
memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al Baqarah: 262).

Imam al Qurthubi rahimahullah mengatakan, "Orang orang yang menyebut
nyebut pemberiannya biasanya dari orang yang pelit. Orang yang pelit selalu
merasa besar dengan apa yang diberikannya sekalipun sedikit!".
 


10.Jangan rakus dengan harta dan dunia yang fana!

Menyembunyikan sedekah itu lebih baik. Lebih terbebas dari riya'. Tidak banyak
orang yang tahu. Sehingga sedekah yang diberikan secara tersembunyi menjadi
rahasia antara dirinya dan Allah Jalla wa 'Ala.

Macam Bid'ah di bulan Ramadhan


Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan barakah dan penuh dengan
keutamaan. Allah SWT telah mensyariatkan dalam bulan tersebut
berbagai macam amalan ibadah yang banyak agar manusia semakin mendekatkan diri
kepada-Nya. Akan tetapi sebagian dari kaum muslimin berpaling dari keutamaan ini dan
membuat cara-cara baru dalam beribadah. Mereka lupa firman Allah ta’ala, “Pada hari
ini Aku telah menyempurnakan agama kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)
. Mereka ingin
melalaikan manusia dari ibadah yang disyariatkan. Mereka tidak merasa cukup dengan
apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
sahabat beliau ridhwanullahi ‘alaihim ajma’iin.

Di bawah kami mencoba mengangkat beberapa amalan bid’ah yang
banyak dilakukan oleh kaum muslimin
semoga dengan mengetahuinya kaum muslimin bisa meninggalkan perbuatan tersebut.

1.Bid’ah Berzikir Dengan Keras Setelah Salam Shalat Tarawih 
 Berzikir dengan suara keras setelah melakukan salam pada shalat tarawih dengan
dikomandani oleh satu suara adalah perbuatan yang tidak disyariatkan. Begitu pula
perkataan muazin, “assholaatu yarhakumullah” dan yang semisal dengan perkataan
tersebut ketika hendak melaksanakan shalat tarawih, perbuatan ini juga tidak disyariatkan
oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula oleh para sahabat maupun
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Oleh karena itu hendaklah kita merasa
cukup dengan sesuatu yang telah mereka contohkan. Seluruh kebaikan adalah dengan
mengikuti jejak mereka dan segala keburukan adalah dengan membuat-buat perkara baru
yang tidak ada tuntunannya dari mereka.

2.Membangunkan Orang-Orang untuk Sahur

Perbuatan ini merupakan salah satu bid’ah yang tidak pernah dilakukan pada masa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak pernah memerintahkan hal ini.
Perbedaan tata-cara membangunkan sahur dari tiap-tiap daerah juga menunjukkan tidak
disyariatkannya hal ini, padahal jika seandainya perkara ini disyariatkan maka tentunya
mereka tidak akan berselisih.

3.Melafazkan Niat

Melafazkan niat ketika hendak melaksanakan puasa Ramadhan adalah tradisi yang
dilakukan oleh banyak kaum muslimin, tidak terkecuali di negeri kita. Di antara yang kita
jumpai adalah imam masjid shalat tarawih ketika selesai melaksanakan shalat witir
mereka mengomandoi untuk bersama-sama membaca niat untuk melakukan puasa besok
harinya.
Perbuatan ini adalah perbuatan yang tidak di contohkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam juga orang-orang saleh setelah beliau. Yang sesuai tuntunan adalah
berniat untuk melaksanakan puasa pada malam hari sebelumnya cukup dengan meniatkan
dalam hati saja, tanpa dilafazkan.

4.Imsak
Tradisi imsak, sudah menjadi tren yang dilakukan kaum muslimin ketika ramadhan.
Ketika waktu sudah hampir fajar, maka sebagian orang meneriakkan “imsak, imsak…”
supaya orang-orang tidak lagi makan dan minum padahal saat itu adalah waktu yang
bahkan Rasulullah menganjurkan kita untuk makan dan minum. Sahabat Anas
meriwayatkan dari Zaid bin Sabit radhiyallahu ‘anhuma, “Kami makan sahur bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau shalat. Maka kata Anas,
“Berapa lama jarak antara azan dan sahur?”, Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat
membaca ayat al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menunda Azan Magrib Dengan Alasan Kehati-Hatian
Hal ini bertentangan dengan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menganjurkan kita untuk menyegerakan berbuka. Rasulullah bersabda,
“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
(HR. Bukhari Muslim)

5.Takbiran

Yaitu menyambut datangnya ied dengan mengeraskan membaca takbir dan memukul
bedug pada malam ied. Perbuatan ini tidak disyariatkan, yang sesuai dengan sunah adalah
melakukan takbir ketika keluar rumah hendak melaksanakan shalat ied sampai tiba di
lapangan tempat melaksanakan shalat ied.

6.Padusan

Yaitu Mandi besar pada satu hari menjelang satu ramadhan dimulai. Perbuatan ini tidak
disyariatkan dalam agama ini, yang menjadi syarat untuk melakukan puasa ramadhan
adalah niat untuk berpuasa esok pada malam sebelum puasa, adapun mandi junub untuk
puasa Ramadhan tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Mendahului Puasa Satu Hari Atau Dua Hari Sebelumnya
Rasulullah telah melarang mendahului puasa ramadhan dengan melakukan puasa pada
dua hari terakhir di bulan sya’ban, kecuali bagi yang memang sudah terbiasa puasa pada
jadwal tersebut, misalnya puasa senin kamis atau puasa dawud. Rasulullah bersabda,
“Janganlah kalian mendahului puasa ramadhan dengan melakukan puasa satu hari atau
dua hari sebelumnya. Kecuali bagi yang terbiasa melakukan puasa pada hari tersebut
maka tidak apa-apa baginya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

7.Perayaan Nuzulul Qur’an

Yaitu melaksanakan perayaan pada tanggal 17 Ramadhan, untuk mengenang saat-saat
diturunkannya al-Qur’an. Perbuatan ini tidak ada tuntunannya dari praktek Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula para sahabat sepeninggal beliau.

8.Berziarah Kubur Karena Ramadhan 
 Tradisi ziarah kubur menjelang atau sesudah ramadhan banyak dilakukan oleh kaum
muslimin, bahkan di antara mereka ada yang sampai berlebihan dengan melakukan
perbuatan-perbuatan syirik di sana. Perbuatan ini tidak disyariatkan. Ziarah kubur
dianjurkan agar kita teringat dengan kematian dan akhirat, akan tetapi
mengkhususkannya karena even tertentu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah maupun
para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’iin.

Inilah beberapa bid’ah yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, khususnya di
negeri kita, semoga Allah ta’ala memberikan kita ilmu yang bermanfaat, sehingga kita
bisa meninggalkan perkara-perkara tersebut dan melakukan perbuatan yang sesuai
dengan tuntunan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
***

Minggu, 31 Juli 2011

Kemungkaran di Hari Raya


    Setiap hari raya islam datang,pasti banyak kaum muslim sibuk mempersiapkan
acara untuk menyambut hari raya tersebut.Namun,itu semua malah menimbulkan beberapa kemungkaran
diantaranya:

1.  Tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir dalam berpakaian. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka
dia termasuk golongan mereka” (HR. Ahmad, sanadnya hasan)


2.  Mendengarkan musik/nyanyian/nasyid (kecuali rebana yang dimainkan oleh
wanita yang masih kecil). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan
datang sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan (padahal hukumnya
haram) perzinaan, pakaian sutra bagi laki-laki, khamr (sesuatu yang
memabukkan), dan alat musik…” (HR. Bukhari secara mu’allaq dan An Nawawi
berkata bahwa hadits ini shahih dan bersambung sanadnya sesuai syarat shahih) 


3.  Wanita berdandan ketika keluar rumah. Padahal seperti ini diharamkan di dalam
agama ini, berdasarkan firman Allah (yang artinya), “Dan hendaklah kamu
(wanita muslimah) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah
laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat serta
tunaikanlah…” (QS. Al Ahzab [33]: 33) 


4.  Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan
musibah di tengah kaum muslimin apalagi di hari raya. Tidak ada yang selamat
dari musibah ini kecuali yang dirahmati oleh Allah. Perbuatan ini adalah haram
berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Setiap anak Adam
telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa
tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan
mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan
meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah
dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan
membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925) 

Jika kita melihat pada hadits di atas, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau
bukan mahram- diistilahkan dengan berzina. Hal ini berarti menyentuh lawan
jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaidah ushul, ‘Apabila
sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa
perbuatan tersebut adalah haram‘.” (Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin
Yusuf Al Judai)

5.  Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘ied. Padahal tidak terdapat satu dalil
pun yang menunjukkan perintah Allah ataupun tuntunan Nabi untuk ziarah ke
kubur pada saat tersebut.

6.  Kebanyakan manusia meninggalkan shalat lima waktu karena sibuk
bersilaturahmi dan kaum pria juga meninggalkan shalat berjamaah di masjid tanpa
alasan yang dibenarkan oleh agama. Demi Allah, sesungguhnya ini adalah salah
satu bencana yang amat besar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat.
Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An
Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul
Mashobih no. 574)

 
7.  Begadang saat malam ‘Idul Fitri untuk takbiran hingga pagi sehingga kadang
tidak mengerjakan shalat ‘ied di pagi harinya. Takbiran yang dilakukan juga
sering mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat padahal hukum
mengganggu sesama muslim adalah haram. Rasulullah shallallahu’alaihi wa
sallam bersabda, “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim
lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim) 


Tuntunan Berhari Raya

Tuntunan berhari raya dapat kami simpulkan sebagai berikut di
bawah ini dari kumpulan beberapa kitab dan risalah berkenaan masalah 2 hari raya:

Pertama, Bersuci dengan mandi untuk hari raya, berdasarkan riwayat dari Nafi’ bahwa
Abdullah Bin Umar mandi di hari raya ‘Idul Fitri sebelum berangkat ke Mushalla (tanah
lapang untuk shalat) (HR. Imam Malik)


Kedua, Makan pada hari raya ‘Idul Fitri sebelum melaksanakan shalat dan tidak makan
di hari raya ‘Idul Adha sampai selesai shalat, hal ini berdasarkan hadits dari Anas Bin
Malik beliau berkata, “adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat
pada hari ‘Idul Fitri sampai beliau memakan beberapa butir kurma” (HR. Bukhari) dan
riwayat lain dari Buraidah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari raya Idul
Adha tidak makan sampai kembali, lalu makan dari sembelihan kurbannya. (HR.
Tirmidzi)


Ketiga, berhias dan mempercantik diri dengan memakai pakaian yang terbaik yang ada
serta memakai minyak wangi dan bersiwak, sebagaimana Ibnul Qayyim di dalam Zaadul
Ma’ad (I/441) menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki Hullas
(sebuah jenis pakaian khusus) untuk berhari raya.

Keempat, disunahkan berangkat dengan berjalan kaki, tenang dan santai ke Musholla
(tanah lapang), dan pulang melewati jalan yang lain, berdasarkan perkataan Imam Sa’id
bin Mussayib, “Sunah Idul Fitri ada tiga: berangkat ke Musholla, makan sebelum
berangkat dan mandi”. Ibnul Qayyim di dalam Zaadul Ma’ad ( I/449) berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dengan berjalan kaki dan keluar melalui
jalan yang berbeda pada hari raya.” (Riwayat Al-Firyabi dengan sanad shahih lihat
Irwaul Gholil, 2/104)

Keutamaan Puasa

    Bismillahirrahmanirrahim Segala puji bagi Al lah Rabb semesta alam, shalawat
dan sala m semoga tercurah kepada sayyid para Rasul, kepada keluarganya dan
seluruh sahabatnya. Amma ba' du.
    Beberapa hari lagi kita akan segera menyambut bulan suci RAMADHAN 1432 H.Sebelum
kita mengerjakan puasa RAMADHAN,tak ada salahnya jika terlebih dahulu kita memahami keutamaan
puasa.

 Keutamaan Puasa

Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam ( qath'i ) dalam Kitabullah yang mulia,
memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub kepada Allah
dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman Allah.
"Artinya : Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum
mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita
yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang b enar (i mannya)
dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya), dan
kaum pria serta wanita yang khusyu', dan kaum pria serta wanita
yang b ersedekah, dan kaum pria serta wanita yan b erpuasa, dan
kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat
birahinya), dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat
Allah,A llah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang
besar" [Al-Ahzab : 35]


Dan firman Allah.
"Artinya : Dan kalau kali an puasa, itu lebih baik bagi kalian kalau
kalian mengetahuinya" [Al-Baqarah : 184]

Rasulullah SAW telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa
puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Allah
telah mengkhususka n satu pintu surga untuk orang yang puasa. Puasa bisa
memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang
jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang b esar, keutamaan yang
agung ; dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih b erikut ini, dijelaskan
dengan penjelasan yang sempurna.

Rasulullah SAW menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya
dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai
wijaa' bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan
hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh
kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dib elenggu dengan
belenggu puasa.
Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam
menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan bathin. Oleh karena
itu Rasulullah SAW bersabda.
"Artinya : Wahai sekalian para p emuda, barangsiapa di antara
kalian telah mampu ba'ah 3 hendaklah menika h, karena menikah
lebih menundukkan pandang an, dan lebih menjaga kehormatan.
Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa
karena puasa merupakan wijaa' (pemutus syahwat) baginya"

Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan
perkara-p erka ra yang tidak disenangi, dan neraka dili puti dengan
syahwat. Jika telah jelas demikian wahai muslim sesungguhnya puasa
itu menghancurkan syahwat, mematahkan ta jamnya syahwat yang bisa
mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang
puasa dari neraka.
Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah
benteng dari neraka, dan p erisai yang m enghal angi seseorang dari neraka.
Bersabda Rasulullah SAW.
"Artinya : Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah
kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka.

    Itulah sekelumit keutamaan yang telah dikabarkan ALLAH melalui Nabi Muhammad SAW
kepada umat muslim sekalian.Semoga kita dapat menjalani puasa RAMADHAN tahun ini dengan
lancar.AMIENNNNNNNNNNNN.Dan semoga puasa RAMADHAN tahun bukanlah puasa RAMDAHAN yang terakhir
untuk kita semua.AMMIENNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN.

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons