Selasa, 27 Maret 2012

Wah, Ada Kode QR di Atap Gedung

 
detail berita
Kode QR di Atap Gedung (Foto: Slashgear.com)
CALIFORNIA - Ada keunikan pada salah satu atap gedung kantor Facebook yang baru di Menlo Park, kampus California. Sesuatu yang unik ini terlihat dari satelit di angkasa yakni tertampil kode QR raksasa di atap gedung tersebut.

Seperti dilansir Slashgear, Selasa (27/3/2012), ide unik ini datang dari kelompok karyawan di gedung tersebut untuk melukis kode QR. Belum diketahui secara pasti untuk apakah kode tersebut. Namun, Mark Park dari asosiasi kekayaan intelektual Facebook menulis melalui blognya, Mark Zuckerberg mendorong karyawan melakukan aksi melukis kode tersebut untuk membedakan ruang kantor yang baru.

"Saya ingin melukis kode QR raksasa di suatu tempat sehingga kami bisa melakukan RickRoll (memancing orang untuk masuk) dengan peta online atau orang mengarah ke situs karir kami dan mengirim mereka ke (link) 'Clarissa Explains it All' GeoCities Page," tulis Park.

Berkat beberapa drum cat hitam dan kapur serta benang, ditambah dengan kecerdikan sekelompok karyawan yang berdedikasi menciptakan kode QR raksasa. Alhasil kode tersebut kini dapat terlihat melalui satelit.

"Lain kali Anda (lakukan) zoom in pada Facebook dari peta satelit atau Anda terbang dengan pesawat dari SFO (San Francisco International Airport), lalu melihat dekat ke atap (gedung) kami," pungkas Park.

Kode QR (Quick Response) atau biasa dikenal dengan istilah QR Code adalah bentuk evolusi kode batang dari satu dimensi menjadi dua dimensi. Awalnya, kode QR digunakan untuk melacak bagian kendaraan tertentu di pabrik. Kini kode QR digunakan dalam konteks yang lebih luas, termasuk aplikasi komersial dan kemudahan pelacakan aplikasi berorientasi yang ditujukan untuk pengguna telepon selular.

Kode QR berfungsi bagaikan hyperlinks fisik yang dapat menyimpan alamat dan URL, nomer telepon, teks dan sms yang dapat digunakan pada majalah, surat harian, iklan, pada tanda-tanda bus, kartu nama ataupun media lainnya. Kehadiran kode ini memungkinkan audiens berinteraksi dengan media yang ditempelinya melalui ponsel secara efektif dan efisien.

Kode QR ini juga ditemukan pada ponsel BlackBerry yang dikenal dengan Barcode. Salah satu fungsinya untuk menambah kontak pada BlackBerry Messenger.




Sumber:Okezone.com

Reptil Lebih Dahulu Bersayap Ketimbang Dinosaurus

 
detail berita
Longisquama insignis (foto: Wikipedia)
WASHINGTON - Fosil bulu menunjukkan bukti bahwa burung merupakan keturunan dinosaurus. Tapi ada satu hewan punah yang tidak termasuk dinosaurus dan memiliki struktur tubuh menyerupai sayap.

Diwartakan New Scientist, Selasa (27/3/2012), hewan tersebut bernama Longisquama insignis. Mereka hidup di masa 230 sampai 240 juta tahun yang lalu, sebelum dinosaurus berevolusi. Selain itu mereka juga ada di masa 70 sampai 80 juta tahun yang lalu, sebelum fosil pertama burung berbulu.

Beberapa paleontolog berpendapat bahwa fosil Longisquama yang ditemukan di Kyrgystan pada 1960 itu, hanya merupakan hewan yang mati dibawah sejenis tanan eksotis. Jadi bulu yang namak di punggungnya bukan bagian tubuh Longisquama. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa bulu sayap Longisquama itu nyata. Analisis terbaru membuktikan kedua pendapat itu salah.

"Perpanjangan kulit yang aneh pada Longisquama bukanlah tulang maupun bulu. Struktur tubuh tersebut kemungkinan berhubungan dengan evolusi awal sayap dinosaurus dan pterosaurus," terang Michael Buchwitz dari Freiberg University of Mining and Technology.

Analisa Buchwitz menunjukkan bahwa struktur dasar bagian tubuh itu melekat begitu dekat pada tulang belakang. Artinya struktur tubuh itu tertanam di balik lapisan kulit. Namun, bagian tubuh itu tidak memiliki struktur seperti bulu yang sebenarnya, dan diperkirakan terbentuk menggunakan gen pertumbuhan yang sama dengan pembentuk bulu.

Tulang belulang Longisquama yang ada masih kurang lengkap untuk bisa menentukan posisinya dalam evolusi. Tapi Buchwitz berpendapat bahwa retil tersebut bisa saja berada di garis keturunan yang menghasilkan pterosaurus, buaya, dinosaurus dan burung.




Sumber:Okezone.com

Akan Ada Gunung Api Aktif di Bulan

detail berita
Ilustrasi (Foto: Gizmodo)
CALIFORNIA - Bayangkan ketika menengadah ke langit setiap malam dan melihat asap merah dari gunung berapi di permukaan Bulan. Nah, menurut makalah penelitian baru yang diterbitkan di Nature Geosciences, bahwa di masa depan manusia bisa melihat pemandangan seperti itu.

Menggunakan informasi terakhir yang dikumpulkan oleh alat yang dipasang selama misi Apollo. Renee Weber Project dari Marshall Space Flight Center mengatakan bahwa sekira 30 persen dari lapisan Bulan di sekitar inti logam Bulan adalah cairan.

Mengenai tidak adanya gunung berapi yang aktif saat ini di Bulan, hal ini karena bulan sudah 'mati' dan kenyataannya letusan yang terakhir terjadi berlangsung miliaran tahun lalu. Tapi bukan berarti itu akan hilang selamanya, karena sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Mirjam van Kan Parker dan Wim van Westrenen dari VU University Amsterdam mungkin telah menemukan jawabannya.

Karena manusia tidak bisa mengakses lava, para peneliti ini memecahkan teka-teki dengan cara yang cerdik. Pertama mereka memiliki beberapa sampel dari 350 kilogram bebatuan yang dibawa kembali oleh msisi Apollo. Kemudian meletakkan batu-batu itu dalam kondisi yang sama seperti yang dialami oleh lava cair Bulan.

Lalu setelah membuat lava buatan, akhirnya dari data yang diciptakan dengan simulasi komputer diketahui bahwa magma Bulan sangat kaya titanium, sehingga terlalu berat untuk mengalir ke permukaan. Lava harus lebih ringan dari sekitarnya agar bisa meletus ke permukaan.

"Saat ini, Bulan sedang berada dalam fase pendinginan, seperti yang juga ada di dalamnya," ujar Westrenen seperti dilansir Gizmodo, Jumat (24/2/2012).

Maka ketika di masa depan, lava yang dingin itu akan berubah komposisinya dan akan menjadi kurang padat dibandingkan sekitarnya. Dengan magma yang ringan, bisa lebih mudah bergerak ke permukaan dan membentuk gunung api aktif di Bulan.

Pastinya itu akan menjadi pemandangan yang indah, tapi kemungkinan tidak ada yang bisa melihatnya karena proses ini akan memakan waktu jutaan tahun.




Sumber:Okezone.com

Spesies "Raja Tawon" Ditemukan di Sulawesi

 
detail berita
Tawon dari Sulawesi (foto: Dailymail)
CALIFORNIA - Seekor spesies baru tawon yang ditemukan di Sulawesi Tenggara ini punya rahang yang lebih panjang ketimbang kakinya. Ditambah dengan ukurannya yang begitu besar membuatnya terlihat seolah raja tawon.

Diwartakan Dailymail, Minggu (25/3/2012), Lynn Kimsey, profesor entomology (ahli serangga) di University of California mengatakan, "Rahangnya begitu besar sehingga membungkus kedua sisi kepala saat tertutup. Dan ketika dibuka, rahang itu sebenarnya lebih panjang ketimbang kaki depannya sendiri."

"Saya akan menamainya Garuda, seperti simbol Indonesia. Saya belum pernah melihat spesies Dalara yang serupa ini. Saya dan rekan-rekan tidak mengetahui apapun tentang biologi tawon tersebut. Satu-satunya yang diketahui hanyalah asalnya dari Sulawesi Tenggara," tambahnya.

Menurut Kimsey, rahang yang besar bisa saja memiliki peran penting pada pertahanan dan reproduksi.

Pada spesies lain dalam keluarga (genus) tawon tersebut, pejantannya bergantung di pintu masuk sarang dan melindunginya dari parasit serta perampokan sarang.
Atas tindakan itu, pejantan memperoleh kesempatan untuk mengawini betinanya setiap kali sang betina kembali ke sarang. Sebagai tambahan, rahang tersebut berukuran cukup besar untuk memegangi thorax di tubuh betinanya saat kawin.




Sumber:Okezone.com

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons